Hipersensitivitas Obat: Risiko Medis yang Disalahartikan sebagai Malapraktik

22 hours ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Tidak ada satu pun obat yang benar-benar aman bagi seluruh manusia (Gambar ilustrasi: ChatGPT Image)

Obat selama ini dipersepsikan sebagai simbol harapan dan penyelamat dari penderitaan. Dalam praktik sehari-hari, obat dianggap solusi utama berbagai masalah kesehatan. Namun sejarah kedokteran menunjukkan satu kenyataan penting yang sering dilupakan publik.

Tidak ada satu pun obat yang benar-benar aman bagi seluruh manusia. Organisasi Kesehatan Dunia menegaskan setiap obat memiliki manfaat sekaligus potensi risiko (WHO, 2023). Risiko inilah yang kemudian dikenal sebagai reaksi obat merugikan atau adverse drug reactions.

Seiring dengan pesatnya perkembangan terapi modern, laporan mengenai reaksi obat merugikan (adverse drug reactions/ADR) terus mengalami peningkatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mencatat bahwa ADR termasuk salah satu penyebab utama rawat inap dan kematian yang berkaitan dengan penggunaan obat.

Memang, sebagian besar reaksi tersebut bersifat ringan dan masih dapat ditangani secara efektif. Namun, pada sebagian kecil kasus, reaksi obat dapat berkembang menjadi kondisi yang serius, bahkan berujung fatal.

Fenomena inilah yang melatarbelakangi pentingnya pembahasan mengenai hipersensitivitas obat, sebuah topik yang kerap disalahpahami oleh masyarakat luas, padahal memiliki implikasi klinis yang sangat signifikan.

Masalah muncul ketika hasil terapi tidak sesuai harapan pasien. Pasien berharap sembuh, bukan mengalami komplikasi tambahan. Ketika kondisi memburuk setelah pemberian obat, emosi sering mengambil alih nalar. Tenaga medis kemudian menjadi sasaran tuduhan kelalaian atau malapraktik.

Padahal kedokteran bukan ilmu eksak seperti matematika. Sir William Osler menyebut kedokteran sebagai the science of uncertainty and the art of probability.

Perbedaan persepsi inilah yang kerap memicu konflik medis di ruang publik. Kasus DS di RSUD Kabupaten Serang misalnya, menyita perhatian masyarakat. Pasien dengan riwayat alergi mengalami perburukan setelah terapi obat tertentu.

Kasus serupa terjadi pada RS di Palopo setelah pemberian obat pereda nyeri. Kedua kasus ini memicu tuduhan malapraktik sebelum penyelidikan ilmiah tuntas.

Secara ilmiah, reaksi obat merugikan memiliki definisi yang jelas. WHO mendefinisikan ADR sebagai respons berbahaya dan tidak diharapkan terhadap obat. Reaksi tersebut terjadi pada dosis normal untuk pencegahan atau terapi (WHO, 2022).

Edwards dan Aronson menyebut ADR sebagai konsekuensi biologis yang tidak disengaja (Edwards & Aronson, 2000). Definisi ini menegaskan bahwa ADR bukan selalu akibat kesalahan medis. Banyak reaksi terjadi meskipun dokter sudah mengikuti pedoman klinis.

Dalam farmakologi, ADR diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama. Reaksi tipe A bersifat dapat diprediksi dan terkait efek farmakologis obat. Jenis ini mencakup sekitar 85 hingga 90 persen seluruh ADR.

Katzung menjelaskan kantuk akibat antihistamin sebagai contoh klasik reaksi tipe A (Katzung, 2021). Sebaliknya, reaksi tipe B bersifat tidak terduga dan jarang terjadi. Reaksi tipe B inilah yang dikenal sebagai hipersensitivitas obat.

Hipersensitivitas obat terjadi hanya pada individu tertentu yang sensitif. Reaksi ini tidak bergantung pada dosis dan sulit diprediksi. Pichler menjelaskan metabolit obat dapat bertindak sebagai antigen asing (Pichler, 2019).

Antigen ini memicu respons imun yang berlebihan dan merugikan tubuh sendiri. Karena mekanismenya imunologis, pemeriksaan rutin sering gagal mendeteksinya. Inilah sebab reaksi berat kerap terjadi tanpa peringatan sebelumnya.

Salah satu bentuk paling berbahaya adalah anafilaks...

Read Entire Article