Di media sosial, pernahkah kita menemukan seseorang yang membahas suatu bidang tertentu secara mendalam, tetapi sejatinya dia bukan ahli di bidang yang dia tengah bahas, lalu akhirnya pembahasannya menjadi tidak mendasar dan bahkan jatuh ke konspirasi? Inilah realitas media sosial hari ini, yakni ketika semua orang bebas berpendapat mengenai bidang apa pun tanpa harus menjadi ahli di bidang itu dan berakhir menjadi "orang-orang sok tahu".
Tom Nichols menjelaskan fenomena ini melalui karyanya yang berjudul Matinya Kepakaran (2018). Buku Matinya Kepakaran ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan merupakan buku terjemahan dari The Death of Expertise (2017) karya Tom Nichols.
Bagi Nichols, fenomena "matinya kepakaran" adalah kehancuran pembagian antara kelompok profesional dengan orang awam, murid dengan guru, dan orang yang tahu dengan orang yang "merasa" tahu karena Google, Wikipedia, dan blog (hlm. 3). Sederhananya, fenomena "matinya kepakaran" adalah kaburnya batas antara mereka yang pakar dan mereka yang bukan pakar (orang awam).
Mendefinisikan Pakar dan Membedakannya dengan Orang Awam
Nichols mendefinisikan pakar sebagai orang orang yang memiliki pengetahuan secara "komprehensif" dan "otoritatif". Artinya, pakar adalah seseorang yang perintahnya dalam bidang tertentu merupakan informasi yang sepenuhnya benar dan dapat dipercaya (hlm. 36).
Di dunia ini, terdapat banyak pakar yang mudah kita jumpai di berbagai bidang. Contohnya dokter, insinyur, pilot, sutradara film, atau pianis—mereka semua memiliki keahlian khusus di bidangnya masing-masing. Jika Anda ingin memahami hasil pemeriksaan darah, tentu Anda akan berkonsultasi dengan dokter (hlm. 35). Saat ingin membangun rumah, Anda memerlukan seorang arsitek untuk merancang sekaligus mengawasi proses pembangunannya. Begitu pula ketika ingin mengelola keuangan perusahaan dengan baik, Anda memerlukan seorang akuntan.
Dari berbagai contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa seorang pakar adalah individu yang memiliki pengetahuan dan kemampuan lebih mendalam dibanding kebanyakan orang di bidang tertentu. Mereka biasanya menjadi rujukan ketika seseorang membutuhkan saran, bimbingan, atau solusi terkait bidang keahlian yang mereka kuasai.
Lalu, apa yang membedakan pakar dengan orang awam? Perbedaan pakar dengan orang awam dapat dilihat melalui perpaduan pendidikan, bakat, pengalaman, dan pengakuan dari rekan sejawat (hlm. 36). Pelatihan dan pendidikan formal adalah tanda status keahlian yang paling jelas dan paling mudah untuk dilihat dari seorang pakar. Begitu juga dengan sertifikasi yang berfungsi sebagai bukti kepada orang lain bahwa kemampuan seorang pakar telah ditinjau oleh rekan sejawat dan memenuhi standar dasar kompetensi (hlm. 37).
Internet dan Matinya Kepakaran
Bagi Nichols, internet banyak diisi dan dikuasai oleh omong kosong—terutama tentang politik (hlm. 136). Media sosial, situs web, dan ruang obrolan mengubah mitos, cerita simpang siur, serta rumor menjadi sebuah "fakta". Parahnya, informasi yang salah bisa tersimpan selama bertahun-tahun di internet. Tidak seperti koran kemarin, informasi di internet tahan lama, dan akan muncul di pencarian-pencarian selanjutnya (hlm. 137).
Selain itu, Nichols juga menyatakan bahwa fenomena matinya kepakaran bukan hanya disebabkan oleh internet. Lebih jauh, fenomena matinya kepakaran ini juga disebabkan oleh bias konfirmasi. Nichols mengutip Frank Bruni (hlm. 142): "Para penggiat antivaksin akan selalu menemukan peneliti sembarangan atau 'penelitian' tidak jelas untuk mendukung mereka. Inilah pengetahuan pada era digital: Anda berkelana sampai menemukan kesimpulan yang Anda tuju. Anda mengklik laman demi pembenaran, dan keliru dalam membedakan kehadiran jawaban di situs web dengan kekuatan argumen."
Nichols juga menambahkan bahwa mengakses internet benar-benar dapat membuat orang lebih bodoh dibandingkan jika mereka tidak pernah melakukannya sama sekali. Tindakan mencari informasi membuat orang berpikir mereka telah belajar sesuatu. Namun, pada kenyataannya, mereka tenggelam dalam lebih banyak data yang tidak mereka pahami. Hal itu terjadi karena setelah cukup lama mencari, orang tidak mampu lagi membedakan antara hal yang sekilas dilihat dan hal yang benar-benar dirinya ketahui (hlm. 144).
Tantangan dari Jurnalisme Modern
Pada abad ke-21, ada lebih banyak sumber berita dibandingkan dengan era sebelumnya dengan adanya internet (hlm. 168). Namun, lebih banyak bukan berarti lebih berkualitas. Kemajuan ekonomi dan te...

1 day ago
5






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392741/original/040732000_1761499374-000_82396WX.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5416450/original/062853400_1763451078-Harga_Apple_Watch_Series_11_hingga_Watch_Ultra_3_di_Indonesia_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411327/original/005372700_1763011048-Ellham.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4957585/original/091770400_1727772719-000_36HG47A.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4332604/original/083769300_1677034000-000_339Q9N4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4110996/original/050787700_1659452347-Spotify_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5388981/original/067743700_1761183805-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5412907/original/006280700_1763108886-Galaxy_Z_Flip_7.png)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5412562/original/065570900_1763096258-Amazon_Leo.png)
