Ketika Kesetiaan Dikhianati dan Masyarakat yang Menilai Pernikahan Diselingkuhi

1 day ago 7
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
ilustrasi ini di buat oleh penulis dengan ai

Perselingkuhan dalam pernikahan bukan lagi isu yang tersembunyi. Ia hadir terbuka di ruang publik—mulai dari kisah viral di media sosial hingga konflik rumah tangga figur publik yang dikonsumsi massal. Ironisnya, di tengah kecaman moral yang lantang, perselingkuhan justru kerap dinormalisasi. Alasan klasik pun berulang: “khilaf”, “sudah minta maaf”, atau “demi anak-anak”. Dalam situasi seperti ini, korban perselingkuhan sering terjebak di persimpangan antara mempertahankan pernikahan atau menjaga harga diri dan kesehatan mental.

Pertanyaannya, bagaimana agama—khususnya Islam—dan nilai sosial Indonesia menilai pernikahan yang diselingkuhi, terutama jika pengkhianatan itu terjadi berulang kali? Apakah bertahan selalu lebih mulia, atau justru ada batas etis dan moral yang tidak boleh dilanggar?

Pandangan Agama: Kesetiaan sebagai Amanah

Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan emosional atau legalitas sosial. Ia adalah mitsaqan ghalizha—perjanjian yang kuat dan sakral. Kesetiaan menjadi bagian inti dari amanah tersebut. Karena itu, perselingkuhan bukan hanya pelanggaran perasaan, melainkan pengkhianatan terhadap janji spiritual dan moral.

Ulama sepakat bahwa perselingkuhan termasuk perbuatan dosa. Bahkan jika tidak sampai pada zina secara fisik, pengkhianatan emosional dan niat yang terus dipelihara tetap dinilai sebagai pelanggaran etika Islam. Lebih serius lagi, perselingkuhan yang berulang mencerminkan kegagalan menjaga amanah dan tanggung jawab sebagai pasangan.

Islam memang membuka pintu taubat, tetapi taubat mensyaratkan penyesalan dan perubahan nyata. Jika perselingkuhan terus terjadi tanpa komitmen perbaikan, maka mempertahankan pernikahan tidak lagi menjadi kewajiban mutlak. Prinsip la dharar wa la dhirar—tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain—menjadi dasar bahwa relasi yang terus melukai bertentangan dengan tujuan syariat.

Dengan kata lain, Islam tidak memuliakan penderitaan atas nama kesabaran. Kesabaran bukan berarti membiarkan diri terus dizalimi.

Nilai Sosial Indonesia: Antara Tahan dan Tertekan

Berbeda dengan ketegasan moral agama, nilai sosial di Indonesia sering kali ambigu. Di banyak komunitas, terutama yang masih kuat dengan norma patriarkal, korban perselingkuhan—umumnya perempuan—didorong untuk “bertahan demi keluarga”. Perceraian dianggap aib, sementara perselingkuhan kerap ditoleransi selama tidak terbuka ke publik.

Standar ganda ini menciptakan ketimpangan moral. Pelaku perselingkuhan bisa tetap diterima secara sosial, sedangkan korban yang memilih berpisah justru disalahkan karena dianggap “tidak mampu menjaga rumah tangga”. Akibatnya, banyak pernikahan dipertahankan hanya secara administratif, tetapi rapuh secara emosional.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berdampak serius. Rumah tangga tanpa kepercayaan melahirkan konflik laten, kekerasan emosional, dan lingkungan tidak sehat bagi anak. Anak-anak belajar tentang relasi dari apa yang mereka lihat, bukan dari nasihat. Normalisasi perselingkuhan secara tidak langsung mewariskan pola relasi yang rusak ke generasi berikutnya.

Mempertahankan atau Melepaskan: Di Mana Batasnya?

Agama dan akal sehat sepakat bahwa pernikahan bertujuan menghadirkan ketenangan, keadilan, dan kasih sayang. Jika kesetiaan berulang kali dikhianati, maka esensi pernikahan itu sendiri telah runtuh. Mempertahankan pernikahan dalam kondisi seperti ini sering kali bukan soal iman atau keteguhan, melainkan tekanan sosial dan ketakutan terhadap stigma.

Islam memberi ruang solusi yang adil, termasuk perceraian sebagai jalan terakhir ketika kemudaratan lebih besar daripada maslahat. Dalam konteks ini, berpisah bukan kegagalan moral, melainkan upaya menjaga martabat dan keselamatan jiwa.