Menjaga Kedaulatan Pedagogis Guru

1 day ago 11
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
MI/Duta MI/Duta(Dok. Pribadi)

KEGELISAHAN guru terhadap kehadiran teknologi di ruang kelas kerap dianggap sebagai gejala baru. Kecerdasan artifisial (KA), misalnya, sering dipersepsikan hadir secara tiba-tiba tanpa jangkar sejarah yang bisa dirujuk. Akibatnya, respons yang muncul sering kali bersifat defensif, penuh kehati-hatian, bahkan cenderung menolak.

Padahal, sejarah pendidikan menunjukkan sebaliknya. Setiap generasi guru selalu berhadapan dengan peranti baru yang datang membawa janji perbaikan sekaligus kecemasan akan hilangnya peran manusia. Kegelisahan ini adalah repetisi sejarah yang hanya tampil dalam bentuk dan bahasa yang berbeda.

Sejatinya, yang berubah hanyalah teknologinya, sementara pertanyaan dasarnya tetap sama: siapa yang memegang kendali di ruang kelas? Di titik ini, adaptasi menjadi keniscayaan. Namun, ia bukan sekadar mengikuti tren, melainkan upaya memastikan otoritas guru tetap relevan di tengah disrupsi.

OTORITAS DAN SEJARAH

Sebelum abad ke-18, posisi guru hampir tidak pernah diperdebatkan. Hal itu wajar mengingat pengetahuan masih menjadi barang langka, buku sangat mahal, dan akses informasi terbatas. Guru hadir sebagai figur otoritatif-transmisif (single source of truth) yang menyampaikan pengetahuan lintas generasi. Sejarawan pendidikan menyebut guru pada masa ini sebagai custodian of knowledge atau penjaga gerbang pengetahuan (Tyack & Cuban, 1995).

Ketegangan mulai muncul saat papan tulis masuk ke ruang kelas pada pertengahan abad ke-19. Di Amerika Serikat dan Eropa, teknologi ini awalnya dicurigai. Muncul kekhawatiran guru akan 'malas bicara' dan murid 'berhenti berpikir'. Namun, sejarah mencatat papan tulis justru menjadi medium dialogis untuk memvisualisasikan konsep. Larry Cuban (1986) mengevaluasi bahwa dampak positif teknologi muncul ketika guru menggunakannya secara pedagogis, bukan sekadar alat salin.

Pelajaran berharga ini kembali teruji pada awal abad ke-20 melalui radio pendidikan. Radio menjanjikan pemerataan kualitas pengajaran. Namun, evaluasi di AS hingga Kanada justru menunjukkan hasil mengecewakan. Murid bosan dan dinamika kelas hilang karena guru direduksi menjadi sekadar penonton (Saettler, 1990). Teknologi terbukti gagal ketika otoritas pedagogis guru disisihkan.

FENOMENA GURU IMITASI

Memasuki era internet, tantangan berubah rupa. Informasi menjadi melimpah ruah. Mitos 'guru paling tahu' runtuh karena murid dapat mengakses pengetahuan lebih cepat. Namun, laporan OECD (2015) menegaskan bahwa peningkatan intensitas teknologi informasi tidak berkorelasi otomatis dengan hasil belajar. Yang menentukan tetaplah bagaimana guru mengelola teknologi dalam kerangka pedagogi yang bermakna.

Pandemi covid-19 menjadi ujian adaptasi terbesar. Merujuk pada evaluasi Bank Dunia (2021), guru yang berhasil menjaga keberlanjutan belajar bukanlah mereka yang paling canggih secara teknis, melainkan yang paling adaptif dan empatik. Teknologi memang menyelamatkan proses, tetapi tidak otomatis menjaga kualitas relasi.

Risiko yang muncul kemudian ialah fenomena 'guru imitasi'. Tekanan adaptasi yang keliru serta beban kerja yang tinggi mendorong guru mengambil jalan lintas melalui solusi instan: template, modul otomatis, hingga rubrik siap pakai. Imitasi ini menggerus fungsi esensial guru dalam berpikir pedagogis. Guru tak lagi merancang pembelajaran berdasarkan konteks murid, melainkan sekadar mengikuti pola yang ditentukan oleh sistem. Guru imitasi tampak adaptif di permukaan, tetapi rapuh secara profesional karena kehilangan kendali atas tujuan belajar.

KEDAULATAN PEDAGOGI

Kini, saat KA mulai merambah ruang kelas dengan kemampuan menjawab soal dan menyusun materi secara instan, sejarah seolah berulang dengan intensitas lebih tinggi. Risiko terbesarnya bukan pada kecanggihan mesin, melainkan pada godaan untuk mendelegasikan keputusan pedagogis kepada algoritma.

Di sinilah kedaulatan pedagogis menjadi krusial. Keputusan akhir pembelajaran—tujuan, proses, dan penilaian—harus tetap berada di tangan guru. Laporan UNESCO (2023) menegaskan bahwa KA seharusnya berfungsi sebagai decision support system, bukan decision maker. Guru yang berdaulat mampu menggunakan KA untuk memperkaya analisis, sambil tetap peka membaca keheningan kelas dan latar sosial murid yang tak terjangkau kode biner.

Kehadiran mata pelajaran pilihan koding dan KA melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 merupakan upaya menguatkan kedaulatan tersebut. Statusnya sebagai mapel pilihan menunjukkan bahwa negara tidak memaksakan satu model tunggal. Sekolah bahkan dapat mengajarkannya secara unplugged (tanpa perangkat), menekankan bahwa esensinya adalah penguatan cara berpikir—logika algoritmik, literasi data, dan etika digital.

Fokus utamanya bukan sekadar mengajarkan 'cara memakai' KA, melainkan 'memahami' KA. Ini sejalan dengan UNESCO AI Competency Framework yang menempatkan penalaran dan nilai sebagai fondasi. Tanpa guru, koding dan KA kehilangan konteks etisnya. KA mungkin mampu menjawab segala soal, tetapi ia tidak pernah tahu kapan seorang murid sedang dirundung sedih atau putus asa.

Sejarah memberi peringatan konsisten: tidak ada teknologi pendidikan yang berhasil tanpa guru yang berdaulat. Tantangan guru di era KA bukan lagi soal 'siap atau tidak siap', melainkan 'berani atau tidak berani' menjaga peran sebagai penentu makna belajar. Sebagaimana diingatkan Geoffrey Hinton, KA boleh saja mengolah informasi secepat kilat, tetapi ia tetap defisit dalam pemahaman moral, empati, dan konteks kemanusiaan. Di sanalah guru tetap tak tergantikan.

Read Entire Article