Nuklir Tiongkok.(Al Jazeera)
TIONGKOK menolak usulan Presiden Donald Trump untuk perundingan pengendalian senjata nuklir sebagai tidak masuk akal. Padahal, Beijing menggandakan jumlah persenjataannya, meluncurkan serangkaian rudal berkemampuan nuklir yang luas, dan meletakkan dasar bagi uji coba nuklir baru dekade ini.
Tiongkok memiliki stok sekitar 600 hulu ledak nuklir--lebih kecil daripada jumlah yang dimiliki oleh Amerika Serikat atau Rusia yang masing-masing memiliki 3.700 dan 4.300, menurut Stockholm International Peace Research Institute, sebuah lembaga kajian Swedia.
Namun, sejak 2020, militer Tiongkok memperluas dan memodernisasi persenjataannya jauh lebih cepat daripada kekuatan nuklir lain. Peningkatannya, kata para analis, menjadi tantangan serius bagi upaya pasca-Perang Dingin untuk mencegah perlombaan senjata lain. Keengganan Beijing untuk berunding dengan Washington mengenai peningkatan nuklirnya tetap menjadi titik perselisihan yang signifikan dalam hubungan AS-Tiongkok, bahkan setelah Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping meredakan ketegangan perdagangan dengan gencatan senjata di Korea Selatan bulan lalu.
Berikut yang perlu Anda ketahui tentang program senjata nuklir Tiongkok.
Berapa banyak hulu ledak nuklir Tiongkok?
Ukuran pasti persenjataan nuklir Tiongkok merupakan salah satu rahasia militer Tiongkok yang paling dijaga ketat, tetapi para ahli independen dan pejabat AS sepakat bahwa persenjataan tersebut telah membengkak dalam lima tahun terakhir.
Setelah uji coba nuklir terakhir negara itu yang terkonfirmasi pada 1996, perkiraan eksternal menyebutkan bahwa persediaan hulu ledaknya antara 200 dan 300. Dalam laporan tahunannya tentang militer Tiongkok, Pentagon memperkirakan pada 2020 jumlahnya berada di angka 200-an.
Namun, jumlah tersebut meningkat drastis sejak saat itu. Pada akhir tahun lalu, laporan yang sama memperkirakan Tiongkok memiliki lebih dari 600 hulu ledak dengan potensi mencapai 1.000 pada 2030.
Sejak 2020, Tiongkok juga memperluas secara drastis lokasi uji coba nuklir utamanya di wilayah barat laut yang terpencil dengan menambahkan bangunan, saluran listrik, dan terowongan yang dibor jauh ke dalam tanah.
Para ahli mengatakan ruang-ruang bawah tanah tersebut dapat digunakan untuk melakukan uji coba nuklir yang sulit dideteksi atau untuk uji coba tingkat rendah yang menilai keamanan dan keandalan senjata tanpa menyebabkan ledakan.
Dunia menyadari pergeseran paradigma dalam program senjata nuklir Tiongkok ini pada 2021, ketika para analis melihat ladang-ladang silo rudal yang luas sedang dibangun di wilayah-wilayah terpencil di Tiongkok barat laut.
Tahun lalu, Tiongkok memiliki sekitar 350 silo, hampir sama banyak dengan Amerika Serikat. Silo adalah poros vertikal bawah tanah yang terbuat dari beton bertulang dan baja yang digunakan untuk menyimpan dan meluncurkan rudal balistik.
Ladang-ladang silo tersebut hanyalah tanda pertama dari beberapa tanda bahwa Beijing sedang mengembangkan cara-cara baru untuk berpotensi menembakkan hulu ledak nuklir hingga ke daratan AS dan menyerang pangkalan-pangkalan AS di Asia dengan senjata nuklir berdaya ledak rendah yang lebih kecil, tetapi tetap kuat.
Secara tradisional, hampir semua senjata nuklir operasional Tiongkok dimuat ke dalam rudal balistik antarbenua yang dipasang di belakang truk. Rudal-rudal ini dapat dikerahkan di seluruh negeri dalam pola yang tak terduga untuk menghindari serangan pendahuluan.
Tiongkok kini secara terbuka menunjukkan bahwa mereka sedang mengembangkan lebih banyak pilihan, termasuk rudal yang dapat diluncurkan dari silo, dijatuhkan dari pesawat pengebom jarak jauh, dan ditembakkan dari kapal selam. Parade militer akbar di Beijing pada September merupakan pertama kali Tiongkok menunjukkan ambisinya untuk mengoperasikan triad nuklir secara penuh.
Dalam parade tersebut, Tiongkok juga memamerkan tiga rudal darat berkemampuan nuklir, termasuk rudal balistik antarbenua misterius yang diluncurkan dari truk, DF-61, yang tampaknya merupakan penyempurnaan dari rudal yang sudah ada yang mampu menghantam daratan AS.
Para pakar Tiongkok mengeklaim bahwa rudal berbahan bakar cair yang diarak melalui Beijing mampu menghantam daerah mana saja di Bumi dan dapat menargetkan beberapa lokasi secara bersamaan menggunakan kombinasi hulu ledak nuklir, konvensional, atau umpan, teknologi yang lebih sulit dicegat sistem pertahanan rudal AS.
"Peningkatan kekuatan militer Tiongkok--baik konvensional maupun nuklir--bertujuan menyamai AS dan memastikan Washington tidak tertarik menggunakan kekuatan terhadap Tiongkok," kata Victor Gao, wakil presiden Center for China and Globalization, lembaga pemikir yang berbasis di Beijing, kepada Washington Post, Minggu (17/11). "Saya pikir, semakin lama Washington semakin memahami pesannya."
Apa yang kita ketahui tentang motif Beijing?
Para pejabat Tiongkok belum menjelaskan atau bahkan mengakui bahwa mereka tampaknya mengubah kebijakan untuk mempertahankan jumlah minimum senjata nuklir yang diperlukan guna mencegah serangan musuh.
Mereka juga tidak membantah adanya peningkatan tersebut.
Beijing masih menyatakan kebijakannya untuk tidak menggunakan senjata nuklir kecuali diserang terlebih dahulu.
Namun, para pejabat Tiongkok semakin gencar membicarakan perlu penyeimbang strategis yang lebih kuat. Frasa ini mungkin berarti mereka memandang senjata nuklir yang lebih tangguh sebagai hal yang diperlukan untuk menggeser keseimbangan kekuatan global ke arah Beijing.
Pada Maret 2021, Xi menyerukan Tiongkok untuk mempercepat pembangunan penangkal strategis canggih sebagai bagian dari peningkatan besar-besaran Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang mengelola persenjataan nuklir negara itu.
Xi mungkin percaya bahwa memiliki lebih banyak senjata nuklir akan membantunya mencapai penyatuan dengan Taiwan, negara demokrasi kepulauan yang berpemerintahan sendiri yang diklaim Beijing sebagai wilayahnya, kata para analis.
Jenderal Anthony J. Cotton, komandan Komando Strategis AS, mengatakan kepada Kongres pada Maret bahwa investasi Tiongkok dalam sistem peluncuran tambahan berbasis darat, laut, dan udara untuk hulu ledak nuklir merupakan bagian dari persiapan militer Tiongkok untuk perang memperebutkan Taiwan.
Para pejabat intelijen dan militer AS mengatakan bahwa Xi menginstruksikan PLA untuk siap merebut Taiwan pada 2027, meskipun mereka menambahkan bahwa tenggat waktu tersebut tidak berarti ia akan memerintahkan invasi pada tahun itu.
Bagaimana prospek perundingan pengendalian senjata?
Gencatan senjata perdagangan Trump dengan Xi dibayangi oleh keputusan pemimpin AS tersebut untuk mengarahkan Pentagon agar mulai menguji senjata nuklir atas dasar yang setara dengan Tiongkok dan Rusia.
Trump menindaklanjuti dalam pidatonya di Miami pekan lalu dengan mengatakan bahwa pemerintahannya mungkin sedang mengerjakan rencana untuk denuklirisasi Tiongkok, Rusia, dan AS.
Usulan tersebut mendapat bantahan keras dari Beijing. "Kekuatan nuklir Tiongkok tidak setara dengan AS dan Rusia," ujar Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, ketika ditanya tentang prospek perundingan pekan lalu. "Akan tidak adil, tidak masuk akal, dan tidak praktis untuk mewajibkan Tiongkok bergabung," ujarnya.
Ini bukan pertama kali Trump mencoba bernegosiasi dengan Beijing mengenai pengembangan senjata nuklirnya.
Dalam masa jabatan pertamanya, pemerintahan Trump mengatakan akan mengundang Tiongkok untuk membahas perubahan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New Strategic Arms Reduction Treaty/NSR), pakta antara Rusia dan AS yang akan berakhir pada Februari. Tidak ada perundingan semacam itu yang pernah dikonfirmasi secara publik.
Pemerintahan Biden juga berusaha melibatkan Tiongkok dalam pengendalian senjata, tetapi perundingan terhenti setelah mencapai kesepakatan dengan Xi bahwa manusia--bukan kecerdasan buatan--yang harus memutuskan apakah akan menggunakan senjata nuklir.
Tiongkok sebelumnya mendesak AS untuk mengadopsi kebijakan tanpa penggunaan pertama sebagai prasyarat bagi kemajuan perundingan. "Pentagon menolak karena hal itu akan merusak kredibilitas pencegahan AS yang diperluas ...

1 month ago
22






















:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5416450/original/062853400_1763451078-Harga_Apple_Watch_Series_11_hingga_Watch_Ultra_3_di_Indonesia_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4110996/original/050787700_1659452347-Spotify_2.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438274/original/083064300_1765278633-WhatsApp_Image_2025-12-09_at_17.44.57.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5415742/original/089860200_1763402312-IMG-20251117-WA0054.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415760/original/068432600_1763423351-Oppo_Reno15_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5236191/original/021182700_1748493363-image002.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4632922/original/087873700_1698908712-BEdu__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2904681/original/070028300_1567861054-0E6A1422-01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5226660/original/050701400_1747753465-steptodown.com913068.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4989336/original/056998500_1730640716-top-view-turron-dessert.jpg)