Barca dan Mes Que un Club

2 days ago 12
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Barca dan Mes Que un Club Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(Dok. MI)

SEPAK bola, seperti hidup, sering kali tidak ditentukan skor. Ia ditentukan sikap. Oleh cara seseorang berdiri ketika kalah dan oleh kesediaannya menunduk walaupun menang. Di titik itulah kisah tentang Xabi Alonso, Kylian Mbappe, Real Madrid, dan Barcelona menjadi lebih dari sekadar cerita lapangan hijau. Ia menjelma cermin. Cermin tentang kuasa, tentang hormat, dan tentang siapa yang sebenarnya sedang memimpin siapa.

Sejumlah media daring menuliskan, setelah Real Madrid tumbang 2-3 dari FC Barcelona di Piala Super Spanyol, Xabi Alonso, dengan ketenangan seorang mantan gelandang yang terbiasa membaca permainan, mengajak para pemainnya memberikan guard of honour. Sebuah barisan sunyi. Sebuah gestur kecil. Namun, justru di sanalah martabat diuji. Ajakan itu ditentang. Bukan oleh manajemen. Bukan oleh suporter. Melainkan oleh seorang bintang, siapa lagi kalau bukan Kylian Mbappe, seorang bintang.

Yang lebih ganjil bukanlah penolakan itu sendiri, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Para pemain Madrid, satu per satu, lebih memilih mengikuti suara sang bintang ketimbang suara manajer mereka. Seolah ruang ganti telah bergeser porosnya, dari pelatih ke pemain, dari visi ke pamor, dari kolektif ke individual. Alonso pun sadar, ia tak lagi didengar. Ia hanya pelatih di papan nama, bukan di hati para pemain. Karena itu, mundurnya Alonso dari Madrid bukan sekadar soal kalah kuasa, melainkan soal harga diri. Ketika seorang pelatih tak lagi dihormati, ia tak punya rumah di klub itu.

Real Madrid, dalam kisah itu, tampak seperti kerajaan para galactico, julukan yang pernah melekat kepada mereka ‘Los Galacticos’, yang lupa cara memberikan hormat. Klub besar yang terbiasa menjadi pusat semesta sehingga sulit mengakui cahaya dari bintang lain.

Penolakan guard of honour itu bukan sekadar sikap emosional pascakalah, melainkan gejala bahwa individualisme telah menebal, bahwa kebesaran nama lebih nyaring daripada kebesaran sikap.

Ironisnya, di sisi lain, Barcelona, rival abadi yang baru saja menaklukkan mereka, justru berdiri membentuk barisan kehormatan saat medali disematkan kepada Real Madrid. Para pemain Barca berdiri. Diam. Bertepuk tangan. Mereka mengakui lawan. Mereka menghormati pertandingan. Dalam diam itu, ada suara yang jauh lebih lantang daripada sorak-sorai, yakni suara etika.

Di situlah Barcelona menampakkan wajah mereka yang lain. Wajah yang tahu cara menang, sekaligus tahu cara menghormati kekalahan orang lain. Sikap itu bukan kebetulan. Ia lahir dari sebuah keyakinan lama klub, Mes que un club, yang artinya ‘Lebih dari sekadar klub’.

Sejak Narcis de Carreras mengucapkan slogan itu pada 1968, Barcelona tak pernah benar-benar memisahkan sepak bola dari identitas. Klub itu ialah bahasa, ingatan, dan perlawanan. Ia adalah Katalonia yang tak selalu bisa berbicara lewat politik, tapi bisa bersuara lewat sepak bola. Karena itu, nilai-nilai kolektif, solidaritas, dan martabat bersama merembes hingga ke cara mereka bermain dan bersikap.

Sepak bola Barca bukan tentang satu orang yang paling bercahaya. Ia tentang banyak pemain yang saling mengisi. Tentang operan pendek yang sabar. Tentang ruang yang diciptakan untuk orang lain.

Filosofi itu pula yang menjelma dalam gestur guard of honour, yaitu menghormati dalam keadaan apa pun, menang atau kalah, karena mengakui bahwa lawan juga bagian dari permainan yang sama.

Madrid, dengan sejarah Los Galacticos mereka, memilih jalan lain. Jalan bintang. Jalan individu. Jalan tempat suara paling nyaring sering kali menang. Ketika sepak bola terlalu tunduk pada ego, yang retak bukan hanya ruang ganti, melainkan juga makna kemenangan itu sendiri.

Pada akhirnya, kisah itu bukan tentang siapa yang lebih hebat. Ia tentang pilihan nilai. Tentang apakah sepak bola akan menjadi panggung ego, atau ruang perjumpaan manusia.

Alonso memilih pergi karena ia tak lagi menemukan hormat. Barcelona memilih berdiri karena mereka percaya bahwa ‘bahkan rival pun pantas dihormati’. Mungkin, di situlah pula perbedaan paling mendasar antara sekadar menang dan ‘menang sekaligus bermakna’.

Read Entire Article