Gunung Laut Axial adalah gunung berapi bawah laut. Di sini, terlihat dasar dinding kaldera barat gunung laut tersebut.(Doc NOAA)
PARA peneliti kembali memperbarui prediksi mengenai aktivitas Axial Seamount, gunung api bawah laut aktif yang terletak di lepas pantai Oregon. Setelah sebelumnya diperkirakan akan meletus pada 2025, data pemantauan terbaru menunjukkan bahwa letusan kemungkinan baru terjadi pada pertengahan hingga akhir 2026.
Pada Desember tahun lalu, para ilmuwan mengumumkan bahwa Axial Seamount telah mendekati ambang aktivitas yang mirip dengan kondisi sebelum letusan besar satu dekade lalu. Berdasarkan pengamatan saat itu, letusan diperkirakan akan terjadi dalam kurun waktu satu tahun. Namun pembaruan data sepanjang 2024 dan 2025 mengubah prediksi tersebut.
Axial Seamount berada di punggung bukit Juan de Fuca, batas pergerakan lempeng divergen di barat laut Samudra Pasifik. Gunung api ini merupakan salah satu gunung api bawah laut paling aktif di wilayah tersebut, dengan erupsi yang terdokumentasi pada 1998, 2011, dan 2015.
“Setelah berhasil memprediksi letusan tahun 2015, kami terus mencoba memprediksi letusan berikutnya,” ujar Bill Chadwick, peneliti dari Oregon State University sekaligus pengelola blog Axial Seamount, dikuti dari Live Science.
Inflasi Melambat, Prediksi Mundur
Dalam presentasi di American Geophysical Union (AGU) pada Desember 2024, Chadwick dan tim menjelaskan bahwa letusan Axial Seamount umumnya diawali oleh periode peningkatan gempa dan penggelembungan dasar laut akibat tekanan magma dari bawah permukaan. Tiga letusan terakhir menunjukkan pola yang serupa, dengan tingkat inflasi yang sedikit meningkat setiap siklus.
Setelah letusan 2015, dasar laut kembali mengembang. Namun laju inflasi menurun secara signifikan hingga 2023. Chadwick mencatat bahwa “menjelang musim panas 2023, laju pengangkatan hampir nol,” menurut abstrak presentasinya pada Juli 2024.
Pada musim gugur 2023, aktivitas gempa dan inflasi kembali meningkat indikasi adanya perubahan suplai magma di bawah permukaan. Berdasarkan tren ini, tim memperkirakan letusan bisa terjadi kapan saja dari Juli 2024 hingga akhir 2025. Menjelang akhir 2024, inflasi bahkan telah mencapai 95% dari tingkat yang memicu letusan tahun 2015.
Namun, pada akhir April 2025, inflasi kembali mengalami perlambatan. Dalam pembaruan blog pada 27 Oktober 2025, Chadwick menulis bahwa prediksi sebelumnya perlu direvisi. “Butuh waktu lebih lama dari dugaan kami untuk mencapai ambang inflasi yang sama seperti sebelum letusan terakhir,” tulisnya. “Dengan laju saat ini, ambang itu baru akan tercapai pada pertengahan hingga akhir 2026.”
Para peneliti menduga bahwa perilaku Axial Seamount mirip dengan Gunung Api Krafla di Islandia. Pada gunung api tersebut, setiap letusan membutuhkan tingkat inflasi yang sedikit lebih tinggi dari letusan sebelumnya. Fenomena ini juga terlihat di Axial: pada 2015, ambang inflasi sekitar 30 cm lebih tinggi dibandingkan tahun 2011.
Saat ini, permukaan dasar laut di Axial berada sekitar 10 cm lebih tinggi dibandingkan kondisi tepat sebelum erupsi 2015. Para ilmuwan memperkirakan sekitar 20 cm tambahan dibutuhkan sebelum erupsi baru bisa terjadi. “Ini memang tebakan terdidik, tapi berdasarkan pola yang terlihat pada gunung-gunung api seperti Krafla,” ujar Chadwick.
Peningkatan ambang inflasi ini mungkin disebabkan oleh magma yang menekan kerak di sekitarnya, membuat celah bagi magma menjadi semakin sulit terbentuk kembali di lokasi yang sama. Namun kenaikan ambang ini tidak akan berlangsung selamanya, karena pergerakan punggung bukit Juan de Fuca dapat membantu melepaskan sebagian tekanan kompresi dalam kerak laut.
Prediksi Tetap Sulit
Meski dipantau ketat, waktu pasti letusan tetap sulit diprediksi. Chadwick menekankan bahwa upaya prediksi selama ini masih mengandalkan pola dari pemantauan sebelumnya. Untuk meningkatkan akurasi, tim kini mulai menguji model fisika baru yang mampu “memperkirakan kembali” letusan masa lalu menggunakan data historis.
Model tersebut mulai diterapkan pada 10 November 2025 lalu untuk membaca data real-time Axial Seamount. Namun hasilnya tidak akan dipublikasikan hingga letusan berikutnya benar-benar terjadi, satu-satunya cara untuk membuktikan apakah model itu bekerja.
Sumber: Live Science

1 month ago
23






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392741/original/040732000_1761499374-000_82396WX.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5416450/original/062853400_1763451078-Harga_Apple_Watch_Series_11_hingga_Watch_Ultra_3_di_Indonesia_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411327/original/005372700_1763011048-Ellham.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4957585/original/091770400_1727772719-000_36HG47A.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4332604/original/083769300_1677034000-000_339Q9N4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4110996/original/050787700_1659452347-Spotify_2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5388981/original/067743700_1761183805-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5412907/original/006280700_1763108886-Galaxy_Z_Flip_7.png)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438274/original/083064300_1765278633-WhatsApp_Image_2025-12-09_at_17.44.57.jpeg)