Indonesia Didesak Tagih Utang Ekologis Negara Maju

1 month ago 20
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Indonesia Didesak Tagih Utang Ekologis Negara Maju Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira.(Dok. Antara)

KRITIK terhadap skema pendanaan iklim global kembali mencuat di tengah pelaksanaan Conference of the Parties COP30 Brasil. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai negara-negara maju belum menunjukkan komitmen nyata dalam membantu negara berkembang menangani krisis iklim. Sebaliknya, pola pendanaan yang berjalan dinilai justru memperbesar beban utang.

“Selama ini komitmen pendanaan itu banyak yang melenceng. Negara maju hanya memberi akses, bukan pendanaan. Padahal beberapa negara berkembang ruang fiskalnya sangat terbatas,” ujar Bhima dalam agenda bertajuk Utang Ekologis dan Keadilan Pendanaan Iklim, Selasa (18/11).

Ia menjelaskan bahwa negara maju seharusnya memenuhi tanggung jawab historis terhadap kerusakan lingkungan sejak revolusi industri. “Mereka memiliki dosa iklim yang harus ditebus atau dibayar,” katanya.

Tidak sedikit negara maju yang disebut memanfaatkan isu krisis iklim untuk memperoleh keuntungan finansial. “Begitu ada isu perubahan iklim, banyak negara maju yang programnya justru mencari profit. Salah satu yang paling pasti adalah membeli utang negara berkembang dengan imbal hasil tinggi,” ujarnya.

Temuan itu senada dengan laporan internasional yang menunjukkan praktik recycle finance, yakni hibah yang diberikan dengan syarat penggunaan teknologi dan konsultan dari negara donor. “Seolah mereka memberi, tetapi uangnya kembali dinikmati lembaga-lembaga di negara maju,” ucapnya.

Mekanisme pasar karbon juga menjadi sorotan. Ia menilai skema tersebut masih menyisakan kontradiksi. “Pasar karbon ini problematis karena memberi ruang bagi pencemar untuk terus mencemari tanpa melakukan perubahan nyata dalam dirinya,” katanya.

Dalam konteks hukum internasional, ia menyebut adanya perkembangan penting. International Court of Justice (ICJ) mengeluarkan opini yang menegaskan bahwa negara yang terbukti merusak lingkungan wajib melakukan reparasi. “Dasarnya makin kuat. Kita bisa menagih utang iklim melalui opini ICJ,” ujarnya.

Dorongan agar Indonesia mengambil sikap lebih tegas juga menguat, termasuk melalui renegosiasi dan penghapusan sebagian utang. “Utang ekologis negara maju harusnya dibayar, bukan justru menambah beban utang negara berkembang,” katanya.

Ia juga menyinggung hubungan dengan mitra-mitra utama Indonesia, termasuk Jepang dan Tiongkok. “Jepang tidak merasa punya utang ekologis, padahal masih mendanai proyek-proyek yang menambah krisis iklim. Begitu juga investasi ekstraktif dalam kerangka Belt and Road Initiative yang meninggalkan kerusakan besar,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah perlu berani menggunakan basis ilmiah dan hukum internasional untuk menagih kerugian ekologis tersebut.

“Kita butuh keberanian politik. Kalau tidak ditekan, negara maju tidak akan mengubah cara pandangnya, apalagi membayar utang ekologis secara layak,” pungkas Bhima. (H-3)

Read Entire Article