Ketika Guru Lebih Sibuk Menertibkan daripada Mengajar, Salah Siapa?

1 month ago 24
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
 KemendikdasmenIlustrasi guru mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen

Selamat menyambut Hari Guru Nasional, rekan-rekan seperjuangan!

Menjelang hari yang katanya spesial untuk kita ini, saya ingin mengajak kita merenung sejenak. Coba kita jujur pada diri sendiri. Pernahkah kita menghitung, dalam satu jam pelajaran, lebih sering mana suara kita terdengar?

Apakah lebih sering:

"Diam dulu!"

"Tertib ya!"

"Duduk yang rapi!"

Ataukah lebih sering:

"Siapa yang tahu jawabannya?"

"Wah, idemu bagus sekali!"

"Ayo kita diskusikan ini lebih dalam!"

Jujur, kadang kita merasa terjebak di pilihan pertama. Rasanya, energi kita lebih banyak habis untuk menjaga suasana tetap terkendali, baru setelah itu jika waktu masih tersisa kita bisa benar-benar mengajar.

Fenomena yang Ternyata Umum

Awalnya, saya kira ini hanya terjadi di kelas saya, atau mungkin di sekolah kita. Ternyata tidak.

Sebuah studi pendidikan di Indonesia pernah menunjukkan bahwa kita, para guru, memang dinilai sangat tinggi dalam aspek kedisiplinan dan pengelolaan kelas. Kita hebat dalam membentuk karakter dan menanamkan disiplin. Tapi sayangnya, itu belum selalu sejalan dengan tumbuhnya aktivitas belajar yang mendalam dan interaktif. Kita belum sempat memberi ruang yang cukup untuk eksplorasi dan kreativitas siswa.

Bahkan, fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Sebuah riset di Tiongkok (Frontiers in Psychology, 2022) menemukan fakta yang mencengangkan: lebih dari 50% perhatian guru di kelas ternyata habis digunakan hanya untuk mengatur keterlambatan dan ketertiban siswa, bukan untuk proses belajar itu sendiri.

Bukan berarti disiplin tidak penting. Tentu saja penting. Tapi kalau porsinya terlalu besar, ruang untuk belajar yang sesungguhnya bisa jadi sempit.

Kenapa Ini Bisa Terjadi?

Lalu, kenapa kita sampai di titik ini? Apakah karena kita guru yang galak atau tidak ingin mengajar? Tentu tidak. Ada banyak alasan yang sebenarnya sangat manusiawi.

Kelas yang "gemuk" dan beragam membuat kita harus punya energi ekstra hanya untuk menjaga ketertiban.

Tumpukan administrasi dan target kurikulum yang padat sering membuat waktu kita terbagi.

Tantangan perilaku siswa yang makin kompleks di zaman ini sering memaksa kita menjadi "manajer kelas" dulu, sebelum bisa menjadi fasilitator belajar.

Kita pun dihadapkan pada dilema abadi: pilih menjaga ketertiban, atau menumbuhkan minat belajar?

Kita Tidak Bisa Sendirian

Tapi di balik semua itu, ada hal yang perlu kita semua pahami.

Setiap guru saya yakin sebenarnya ingin mengajar dengan sepenuh hati. Kita rindu melihat mata siswa yang berbinar karena paham, bukan mata yang tertunduk karena takut.

Namun, ketika kondisi kelas tidak mendukung, atau sistem di atas kita terlalu menekan, energi kita habis untuk "menata", bukan "mendidik".

Dan di titik inilah kita semua perlu hadir. Sekolah, orang tua, dan masyarakat. Guru tidak seharusnya sendirian menanggung beban "menertibkan dunia kecil berhama kelas" ini. Kita butuh sistem yang mendukung, orang tua yang bermitra, dan masyarakat yang percaya pada proses.

Mimpi Kita BersamaCoba kita bayangkan sejenak indahnya...Bayangkan kalau setiap siswa datang ke kelas dengan kesadaran penuh untuk belajar.Bayangkan guru bisa fokus mengajar, menuangkan ilmunya, tanpa harus terus-menerus mengingatkan dan berteriak.Kelas seperti itu tidak hanya akan tertib.Kelas itu akan hidup, dialogis, dan penuh makna.Karena kita semua tahu, disiplin memang penting, tapi tujuan akhirnya tetaplah belajar.Selamat Hari Guru Nasional 2025 untuk semua pendidik hebat di seluruh penjuru negeri. Semoga kita tidak lelah berjuang menciptakan ruang-ruang belajar yang penuh makna.
Read Entire Article