Menjaga Anak dari Predator di Ruang Siber

4 days ago 9
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi anak praremaja bersama orang tua. Foto: Shutterstock

Di ruang siber, Indonesia—sebagaimana ditegaskan secara imperatif dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945—dibentuk untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.”

Rumusan ini bukan sekadar deklarasi normatif, melainkan juga mandat konstitusional yang hidup, mengikat, dan menuntut aktualisasi konkret dalam setiap bentuk ancaman terhadap warga negara—termasuk ancaman yang kini bermigrasi ke ruang siber.

Ketika wajah dan identitas anak-anak Indonesia direkayasa oleh kecerdasan buatan menjadi komoditas pornografi sintetis, kegagalan negara untuk bertindak tegas bukan sekadar kelalaian kebijakan, melainkan juga pengingkaran terhadap tujuan fundamental berdirinya negara hukum.

Ancaman ini bukan spekulasi teoritis. Kasus kecerdasan buatan Grok—yang dilaporkan mampu menghasilkan konten seksual non-konsensual berbasis manipulasi wajah dan identitas—menunjukkan bagaimana teknologi generatif dapat dengan mudah melampaui batas etika dan hukum.

Ilustrasi Grok AI milik Elon Musk. Foto: JRdes/Shutterstock

Dalam ekosistem digital tanpa sekat yurisdiksi, tidak ada mekanisme yang secara inheren mencegah wajah anak-anak Indonesia menjadi bahan mentah eksploitasi algoritmik. Hari ini korbannya orang dewasa, berikutnya bisa menimpa anak-anak, selama supply demand terjadi.

Ketika sebuah sistem AI mampu memproduksi citra seksual sintetis hanya dari data visual yang tersedia di ruang publik, setiap anak dengan jejak digital minimal sekalipun berada dalam posisi rentan. Negara tidak dapat berkilah bahwa ancaman tersebut berasal dari platform asing; justru di situlah kewajiban konstitusional negara diuji.

Ironisnya, negara terjebak dalam ilusi regulatif—tanpa tindakan teknis preventif—dengan menganggap pengesahan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) sebagai jawaban final. Padahal, kedaulatan digital Indonesia dibiarkan rapuh, sementara teknologi AI berkembang jauh melampaui daya kejar hukum positif.

Kasus Grok AI menjadi contoh konkret bahwa tanpa ex ante safeguards dan mekanisme pertanggungjawaban yang keras, kecerdasan buatan dapat berfungsi sebagai mesin kekerasan seksual digital. Ketika hukum berjalan lamban dan reaktif, negara secara de facto menyerahkan anak-anak sebagai subjek hukum paling rentan ke dalam mekanisme eksploitasi yang beroperasi secara otomatis dan masif.

Ilustrasi anak menjadi korban. Foto: HTWE/Shutterstock

Secara normatif, UU PDP telah menempatkan anak sebagai subjek data pribadi spesifik yang memperoleh pelindungan hukum tertinggi. Pasal 52 UU PDP mewajibkan Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk menerapkan pelindungan khusus dalam setiap tahapan pemrosesan data anak. Namun, pengalaman global menunjukkan bahwa kewajiban normatif ini akan runtuh apabila tidak disertai dengan konstruksi yurisprudensial yang tegas.

Dalam konteks teknologi seperti Grok AI, kegagalan PSE untuk membangun filter, pembatasan, dan pengamanan berbasis risiko bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan juga kelalaian sistemik yang berpotensi melahirkan kejahatan seksual terhadap anak.

Oleh karena itu, pembacaan UU PDP harus diarahkan pada penerapan strict liability. PSE—baik yang beroperasi langsung di Indonesia maupun yang layanannya dapat diakses oleh warga negara Indonesia—harus diposisikan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas risiko yang melekat pada teknologi yang mereka kelola.

Dalam doktrin liability based on risk, tidak diperlukan pembuktian niat jahat. Cukup ditunjukkan bahwa sistem tersebut secara rasional dapat diprediksi disalahgunakan, sebagaimana telah dibuktikan oleh kasus Grok AI.

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Pendekatan ini memperoleh legitimasi kuat dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. UU tersebut mewajibkan negara dan setiap pihak untuk melindungi anak dari segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual.