(MI/Seno)
ASESMEN formatif merupakan jantung pembelajaran yang berpusat pada proses. Namun, situasi darurat bencana mengubah lanskap pendidikan secara fundamental. Artikel ini membahas bagaimana bencana meniscayakan perubahan mendasar pada strategi, tujuan, dan bentuk asesmen formatif. Melalui studi kasus dan analisis pedagogis, artikel ini menawarkan kerangka untuk mengubah asesmen formatif dari alat penilaian akademik menjadi instrumen pemulihan psikososial dan pembangun ketahanan (resilience) siswa di tengah krisis.
BENCANA MENGUBAH PARADIGMA
Kondisi darurat bencana menciptakan disrupsi mendalam pada ekosistem pendidikan. Ruang kelas fisik mungkin hancur, rutinitas siswa porak poranda, dan kondisi psikologis warga sekolah berada dalam tekanan. Asumsi normalitas dalam pembelajaran tidak lagi berlaku. Strategi belajar-mengajar harus berubah secara radikal, dari tatap muka penuh menjadi hibrida atau darurat, dari kurikulum padat menjadi materi yang esensial, dan dari pencapaian kognitif murni menuju pemulihan holistik.
Perubahan strategi itu memaksa redefinisi tujuan pembelajaran. Tujuan yang semula berfokus pada penguasaan kompetensi artistik perlu ditransformasi menjadi tujuan yang lebih kontekstual dan humanis, seperti 'mengekspresikan perasaan dan harapan melalui medium gambar sebagai bagian dari proses pemulihan'.
Jika tujuan pembelajaran berubah, asesmen--sebagai alat untuk mengukur ketercapaian tujuan tersebut--harus pula bertransformasi. Asesmen sumatif yang kaku dan berorientasi produk menjadi semakin tidak relevan. Sebaliknya, asesmen formatif, dengan sifatnya yang fleksibel, berkelanjutan, dan berfokus pada proses, muncul sebagai pendekatan yang paling mungkin dan dibutuhkan meski fungsinya harus bergeser: dari alat diagnostik pembelajaran menjadi alat perantara untuk penyembuhan dan penumbuhan ketahanan.
ASESMEN UNTUK MANUSIA
Dalam konteks bencana, prinsip inti asesmen formatif menemukan relevansi barunya. Teori assessment for learning (Stiggins, 2002) bermakna baru: penilaian harus untuk belajar, yang mana ‘belajar’ itu sendiri diperluas mencakup pemulihan emosional dan penguatan keterampilan hidup. Pendekatan itu memerlukan lensa trauma-informed yang mengutamakan keamanan psikologis, menghindari penghakiman, dan memberdayakan. Konvergensi landasan itu menegaskan bahwa dalam situasi darurat, asesmen formatif harus bertransformasi dari yang semata akademis menjadi praktik yang bersifat trauma-informed, berfokus pada kekuatan (strength-based) dan terintegrasi sebagai bagian dari proses penyembuhan.
FONDASI PRAKTIK UNGRADING
Fondasi untuk adaptasi itu telah dibangun dalam kondisi normal di SMP Sukma Bangsa Bireuen melalui pendekatan yang berpusat pada proses. Contohnya, dalam pembelajaran lagu daerah Nusantara dengan pendekatan ungrading. Fokus penilaian dialihkan dari angka menuju portofolio proses dan Lembar Refleksi Bernyanyi. Siswa mengumpulkan bukti perkembangan mereka dan melakukan introspeksi. Umpan balik dari guru berbentuk deskriptif, menyoroti pencapaian personal dan keunikan ekspresi, serta memberikan penghargaan pada ketekunan dalam proses.
Praktik tersebut membangun fondasi yang kukuh--fokus pada proses, umpan balik konstruktif, dan keterlibatan siswa dalam refleksi--yang menjadi modal berharga untuk beradaptasi saat bencana datang mengubah segalanya.
TIGA TRANSFORMASI MENDASAR
Ketika bencana terjadi, konstruksi pembelajaran seni budaya mengalami transformasi mendasar, dimulai dari tujuannya. Tujuan bergeser dari penguasaan kompetensi artistik menuju tujuan humanis yang lebih mendesak: pemulihan psikososial (sebagai ruang ekspresi dan pengelolaan emosi), pembangunan ketahanan (untuk menemukan kekuatan dan harapan), serta restorasi komunitas (dengan membangun kembali ikatan melalui kegiatan kolektif). Perubahan tujuan itu menjadi poros yang memutar semua aspek lain.
Fungsi asesmen formatif pun berubah total. Ia bukan lagi sekadar alat diagnostik kemajuan akademik. Dalam situasi darurat, ia mengambil peran ganda yang lebih dalam: sebagai alat pemantauan kesejahteraan (well-being check) untuk memetakan kondisi emosional-sosial siswa; sebagai intervensi terapeutik ringan yang mana proses penilaian itu sendiri--yang penuh perhatian dan validasi--dirancang untuk menenangkan; dan sebagai jembatan komunikasi yang membuka ruang dialog aman.
Dengan fungsi baru itu, teknik asesmen yang rumit harus disederhanakan. Rubrik kompleks digantikan oleh jurnal visual atau emosi sederhana. Observasi partisipatif lebih menekankan pada keterlibatan dan interaksi sosial. Refleksi terpandu diajukan dengan pertanyaan terbuka yang aman, seperti 'warna atau bunyi apa yang paling mewakili harapanmu hari ini?' Kriteria penilaian pun bergeser dari orisinalitas dan teknik, menuju parameter yang lebih manusiawi: keterlibatan (kesediaan terlibat), ekspresi (upaya mengomunikasikan perasaan), regulasi diri (apakah kegiatan seni membantu menenangkan), dan dukungan sosial (saling membantu dalam proses).
Transformasi itu mengubah peran guru secara fundamental. Dari seorang instruktur dan pengkritik ahli, guru harus bertransformasi menjadi fasilitator yang empatik, pendamping proses, dan pembangun ruang aman (safe space holder). Umpan balik yang diberikan bukan lagi kritik untuk penyempurnaan, melainkan lebih berupa validasi ('Saya melihat usahamu…'), pemaknaan ('Apa arti karya ini bagimu?'), dan dukungan yang tulus.
DUKUNGAN SISTEMIS DIPERLUKAN
Transformasi tersebut menghadapi tantangan nyata: beban emosional guru, keterbatasan sumber daya, dan tekanan untuk kembali ke 'kurikulum normal'. Keberhasilan adaptasi tidak bisa dibebankan pada kesigapan individual guru semata, tetapi memerlukan dukungan kebijakan dan sistemik yang konkret. Diperlukan kebijakan kurikulum darurat yang fleksibel, yang secara eksplisit melegitimasi perubahan tujuan dan bentuk asesmen dengan fokus pada kesejahteraan (well-being). Guru memerlukan dukungan pelatihan praktis dalam pendekatan trauma-informed teaching dan desain asesmen adaptif. Kolaborasi dengan organisasi psikososial, seniman komunitas, dan tenaga kesehatan mental juga vital. Sistem supervisi guru pun harus berubah; kreativitas dan kepedulian dalam beradaptasi harus menjadi indikator keberhasilan utama, bukan kepatuhan pada kurikulum baku.
Pada akhirnya, bencana memaksa kita untuk mempertanyakan kembali esensi pembelajaran dan penilaian. Dalam konteks inilah asesmen formatif seni budaya menemukan panggilan barunya yang lebih dalam. Dengan mengalihkan tujuan dari pencapaian akademik menuju pemulihan holistik, asesmen formatif mengalami metamorfosis fundamental: dari sebuah teknik pedagogis, ia bertransformasi menjadi sebuah etika pedagogis. Ia merupakan komitmen untuk mendampingi siswa bukan semata sebagai pembelajar, melainkan sebagai manusia utuh yang sedang berjuang untuk pulih dan bangkit di tengah krisis.

4 days ago
16






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392741/original/040732000_1761499374-000_82396WX.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5416450/original/062853400_1763451078-Harga_Apple_Watch_Series_11_hingga_Watch_Ultra_3_di_Indonesia_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411327/original/005372700_1763011048-Ellham.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4957585/original/091770400_1727772719-000_36HG47A.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4332604/original/083769300_1677034000-000_339Q9N4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4110996/original/050787700_1659452347-Spotify_2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5388981/original/067743700_1761183805-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5412907/original/006280700_1763108886-Galaxy_Z_Flip_7.png)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438274/original/083064300_1765278633-WhatsApp_Image_2025-12-09_at_17.44.57.jpeg)